Rabu, 26 September 2012

ABSTRAK KTI AKAFARMA 2012

ABSTRAK

Krismayanti, Dini. 2012. Evaluasi Mutu Dekstrin Hasil Modifikasi Umbi Gembili (Yang
Dibuat Dengan Metode Hidrolisis Enzimatis)
. Karya Tulis Ilmiah. Akademi
Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. Pembimbing Endang
Susilowati, S.Si., M.Farm-Klins., Apt.

Kata Kunci : Umbi gembili, pati, dekstrin, enzim -amilase, hidrolisis enzimatis, Dekstrosa
Ekuivalen.

Gembili merupakan tanaman penghasil umbi yang saat ini belum banyak
dibudidayakan. Hal ini dikarenakan gembili memiliki harga jual yang rendah. Oleh karena itu
perlu dilakukan alternatif pemanfaatan umbi gembili menjadi dekstrin yang nantinya dapat
digunakan dalam industri farmasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi pati umbi
gembili menjadi dekstrin dalam upaya peningkatan nilai ekonomi, selain itu juga mengetahui
kesesuaian mutu dekstrin yang dihasilkan dengan SNI.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah hidrolisis enzimatis yaitu dengan
menggunakan enzim -amilase sebagai pemecah pati. dekstrin yang diperoleh selanjutnya
dievaluasi mutunya meliputi beberapa parameter uji yaitu uji warna, uji warna dengan larutan
lugol, uji kadar air, uji kadar abu, kelarutan dengan air dingin, derajat asam, dan ekuivalen
dekstrosa. Hasil evaluasi mutu dekstrin dengan konsentrasi enzim -amilase 1,2 L/tDS
menghasilkan warna putih kekuningan, nilai kadar abu sebesar 0,233%, kadar air 8,43%,
bagian yang larut dalam air dingin sebesar 98,84%, derajat asam 4,51 ml NaOH 0,1N/100g,
dan Dekstrosa Ekuivalen sebesar 15,06, untuk dekstrin dengan konsentrasi 2,4 L/tDS
menghasilkan warna putih kekuningan, nilai nilai kadar abu sebesar 0,332%, kadar air 9,51%,
bagian yang larut dalam air dingin sebesar 99,73%, derajat asam 4,86 ml NaOH 0,1N/100g,
dan Dekstrosa Ekuivalen sebesar 15,19, sedangkan dekstrin dengan konsentrasi 4,8 L/tDS
menghasilkan warna putih kekuningan, nilai nilai kadar abu sebesar 0,004%, kadar air
10,50%, bagian yang larut dalam air dingin sebesar 100,45%, derajat asam 4,86 ml NaOH
0,1N/100g, dan Dekstrosa Ekuivalen sebesar 17,86. Hasil analisis data menunjukkan bahwa
evaluasi mutu dekstrin yang dibuat dengan metode hidrolisis enzimatis sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia.
Dapat disimpulkan bahwa mutu dekstrin yang dibuat dari pati umbi gembili dengan
metode hidrolisis enzimatis sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. Secara umum
konsentrasi enzim -amilase mempengaruhi mutu dekstrin yang dihasilkan kecuali pada
parameter uji kadar abu. Dari hasil penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang umbi gembili, tidak sebatas pemanfaatannya sebagai dekstrin tetapi juga sebagai
sirup glukosa maupun fruktosa, sehingga pemanfaatan umbi gembili lebih maksimal.

ABSTRAK

Wulandari, Oktaviani E.C, 2012. Pemanfaatan Pati Ubi Kayu (Mannihot
esculenta) Sebagai Sirup Fruktosa Pengganti Gula Menggunakan
Metode Hidrolisis Enzimatis
. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Analis
Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. Pembimbing :
Endang Susilowati, S.Si., M.Farm-Klins., Apt

Kata Kunci : Pati Ubi Kayu, Sirup Fruktosa, Pengganti Gula, Hidrolisis Enzimatis

Salah satu sumber pati dari umbi – umbian yang berpotensi untuk
dikembangkan menjadi sirup fruktosa adalah pati ubi kayu. Sirup fruktosa
merupakan cairan kental dan jernih dengan kadar fruktosa tinggi diperoleh dari
hidrolisis enzimatis pati. Pembuatan sirup fruktosa ada tiga tahap, yaitu likuifikasi,
sakarifikasi, dan isomerisasi. Penelitian ini menggunakan konsentrasi substrat pati
ubi kayu sebesar 35,16% dan menggunakan variasi konsentrasi enzim isomerase
yaitu 0,35% (sirup fruktosa – I); 0,70% (sirup fruktosa – II); dan 1,40% (sirup
fruktosa – III). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pati ubi kayu
sebagai bahan baku pembuatan sirup fruktosa dengan mengetahui pengaruh
penggunaan variasi konsentrasi konsentrasi enzim isomerase terhadap mutu sirup
fruktosa yang dihasilkan, kemudian dibandingkan dengan persyaratan mutu SNI.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan variasi konsentrasi enzim
memberikan perbedaan yang nyata terhadap mutu sirup fruktosa yang dihasilkan.
Perlakuan terbaik terdapat pada sirup fruktosa dengan konsentrasi enzim
isomerase 1,40% yaitu menghasilkan intensitas warna sebesar 31,7359 R.B.U,
jumlah padatan 71,5%, kadar abu 0,495%, pH 4,5 dan kadar fruktosa 42,207%.
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan variasi konsentrasi enzim isomerase
berpengaruh terhadap mutu sirup fruktosa. Sirup fruktosa hasil hidrolisis pati ubi
kayu yang menggunakan variasi konsentrasi enzim isomerase memenuhi syarat
SNI pada parameter warna,jumlah padatan, kadar abu, pH, dan kadar fruktosa.
Dari hasil penelitian perlu dikembangkan di masyarakat, proses pembuatan sirup
fruktosa pati ubi kayu agar bermanfaat dalam mensubstitusi gula.


ABSTRAK

Ayuningtyas, Nadia Putri. 2012. Uji toksisitas ekstrak etanol daun dandang
gendis (Clinacanthus nutans) dengan menggunakan metode BST (Brine
Shrimp Lethality Test)
. Karya tulis Ilmiah. Akademi Analis Farmasi dan
Makanan Putra Indonesia Malang. Pembimbing Dra. Wahyu
Wuryandari, M. Pd.

Kata kunci :Clinacanthus nutans Folium, toksisitas, Brine Shrimp Lethality Test.

Daun dandang gendis mempunyai khasiat sebagai antikanker (Andriani, 2008).
Untuk membuktikan khasiat tersebut maka dilakukan uji pendahuluan yaitu
dengan melakukan uji toksisitas ekstrak daun dandang gendis. Daun dandang
gendis (Clinacanthus nutans) mengandung senyawa metabolit sekunder saponin,
flavonoid, alkaloid, triterpenoid yang mempunyai efek toksik. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas ekstrak daun dandang gendis
serta nilai LC50 dari ekstrak tersebut. Untuk mengetahui efek toksik dilakukan uji
toksisitas terhadap larva udang dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST)
dengan menggunakan larva udang Artemia salina Leach sebagai bioindikatornya.
Beberapa senyawa bioaktif yang telah berhasil diisolasi dan dimonitor
aktivitasnya dengan BST menunjukkan adanya korelasi terhadap suatu uji spesifik
antikanker. Ekstrak daun dandang gendis yang digunakan untuk pengujian dibuat
dalam 6 konsentrasi yaitu 1μg/mL, 10μg/mL, 100μg/mL, 500μg/mL, 1000μg/mL,
1500μg/mL. Tiap konsentrasi menggunakan 10 larva udang begitu juga dengan
kontrol negatif. Pengujian tersebut diulang sebanyak 2 kali. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ekstrak daun dandang gendis memiliki efek toksik terhadap
larva udang Artemia salina Leach. Nilai LC50 dari ekstrak daun dandang gendis
adalah 10,5901μg/mL. Disarankan untuk melakukan penyeleksian daun dandang
gendis yang akan digunakan dan memperkecil rentang konsentrasi larutan uji.

ABSTRAK 

Prasetyan, Galih Adi. 2012. Uji Mutu Fisik Dan Uji Khasiat Granul Effervescent Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc.) Sebagai Penurun Asam Urat Pada Mencit (Mus Musculus). Karya Tulis Ilmiah. Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putera Indonesia Malang. Pembimbing Ibu Misgiati, A.Md., M.Pd

Kata Kunci: Ekstrak Jahe merah, Granul Effervescent, Uji Mutu Fisik, Uji Khasiat, Asam Urat Tanaman jahe merah atau Zingiber officinale Rosc. secara empirik telah digunakan dalam pengobatan asam urat oleh masyarakat.

Beberapa penelitian pendukung juga telah dilakukan. Akan tetapi penggunaanya hanya sebatas jamu gendong atau serbuk. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi granul effervescent dan melihat seberapa besar potensi ekstrak jahe merah sebagai penurun asam urat yang meliputi uji mutu fisi granul dan uji khasiat penurun asam urat. Formulasi granul effervescent ekstrak jahe merah menggunakan metode granulasi kering dengan bahan asam sitrat, asam tatrat, natrium bikarbonat, manitol. Uji mutu fisik meliputi waktu alir, waktu larut, pengentapan dan uji volunter. Uji khasiat penurun asam urat dilakukan dengan cara sebanyak 9 ekor tikus dibagi dalam 3 kelompok (tiap kelompok 3 ekor). Tiap kelompok mendapat perlakuan sebagai berikut: Kelompok I: Kontrol positif (induksi allupurinol), Kontrol negatif (hanya diberi pakan), Kelompok perlakuan (induksi larutan effervescent ekstrak jahe merah 0,26 ml). Hasil uji menunjukan potensi jahe merah sebagai penurun kadar asam urat darah pada tikus dan uji mutu fisik granul effervescent ekstrak jahe merah memenuhi persyaratan yang terdapat pada farmakope indonesia.

ABSTRAK

Yuniarti, Eny. 2012. Pengaruh Konsentrasi Sukrosa terhadap Kualitas Minuman
Probiotik Bunga Rosella
. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Analis Farmasi
dan Makanan Putra Indonesia Malang, Pembimbing Erna Susanti,
M.Biomed., Apt

Kata kunci : bunga rosella, sukrosa, kualitas minuman probiotik

Minuman probiotik merupakan minuman fermentasi yang dibuat dengan
menggunakan starter bakteri asam laktat yaitu Lactobacillus casei.
Minuman probiotik banyak dikembangkan karena minuman probiotik sangat dibutuhkan
oleh tubuh karena dapat menyerang bakteri yang merugikan yang terdapat dalam
tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas minuman probiotik
bunga rosella dengan penambahan konsentrasi sukrosa. Percobaan dalam
penelitian ini terdiri atas 2 formula dengan 3 kali pengulangan. Formula pertama
dengan konsentrasi sukrosa 7% dan formula kedua dengan konsentrasi sukrosa
14%.
Hasil penelitian menunjukkan minuman probiotik bunga rosella dengan
konsentrasi 7% menghasilkan total bakteri asam laktat sebesar 2,7 x 109 dan
derajat keasaman (pH) sebesar 3,5. Uji organoleptis berasa asam, berwarna merah,
beraroma khas rosella dan bertekstur cair. Minuman probiotik bunga rosella
dengan konsentrasi 14% menghasilkan total bakteri asam laktat 7,3 x 109 dan
derajat keasaman (pH) sebesar 3,18. Uji organoleptis berasa asam, berwarna
merah, beraroma khas rosella dan bertekstur cair. Kedua formula tersebut masuk
syarat SNI berdasarkan parameter total bakteri asam laktat. Dengan demikian
berdasarkan parameter uji yang dilakukan kedua formula tersebut tidak berbeda
secara bermakna tetapi formula yang terbaik berdasarkan nilai ekonomisnya yaitu
pada minuman probiotik bunga rosella konsentrasi 7%. Disarankan untuk
dilakukan penelitian tentang masa simpan minuman probiotik bunga rosella dan
uji parameter lain berdasarkan SNI.

ABSTRAK

Sari, Islami Lia Kartika.2012.Formulasi dan Uji Mutu Serbuk Perisa Nabati dari
Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
. Karya Tulis Ilmiah. Akademi
Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. Pembimbing Dra
Wigang Soelandjari

Kata Kunci : Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus), Serbuk Perisa

Perisa atau penyedap rasa merupakan bahan tambahan makanan yang
berfungsi sebagai penguat rasa. Selama ini kita tahu bahwa perisa selalu
mengandung MSG. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat perisa nabati dari
Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) tanpa penambahan MSG sintetik dengan
cara sederhana dan dilakukan pula uji mutunya.
Jamur tiram putih kandungan gizinya sangat lengkap dengan tingkat
protein yang lebih tinggi dari pada asparagus dan kubis. Jamur tiram putih juga
mengandung sembilan asam amino yaitu methionin, trepthopan, threonin, valin,
leusin, isoleusin, histidin dan fenilalanin.
Pembuatan, uji kadar air dan uji daya serap uap air dilakukan di
Laboratorium Mikrobiologi Putra Indonesia Malang. Pengeringan dan uji protein
di Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang. Uji volunteer
dilakukan di Perum Sawojajar RT01 RW12. Jenis penelitian ini adalah
eksperimen dengan rancangan penelitian terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan,
pelaksanaan dan akhir.
Perisa nabati dibuat dengan satu formulasi dengan tiga replikasi.Hasil uji
yang diperoleh sebagai berikut rata-rata kadar air 4%, daya serap uap air 11%,
kadar protein 4%, kadar asam glutamate 10,5 mg/g berat kering hasil volunteer
dari masyarakat memenuhi criteria baik dengan rata-rata nilai 86,67.
Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan untuk mencari formulasi yang
lebih bervariasi. Penelitian lanjutan juga perlu dilakukan untuk uji mutu yang
sesuai SNI.

ABSTRAK

Sari, Islami Lia Kartika.2012.Formulasi dan Uji Mutu Serbuk Perisa Nabati dari
Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
. Karya Tulis Ilmiah. Akademi
Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. Pembimbing Dra
Wigang Soelandjari

Kata Kunci : Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus), Serbuk Perisa

Perisa atau penyedap rasa merupakan bahan tambahan makanan yang
berfungsi sebagai penguat rasa. Selama ini kita tahu bahwa perisa selalu
mengandung MSG. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat perisa nabati dari
Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) tanpa penambahan MSG sintetik dengan
cara sederhana dan dilakukan pula uji mutunya.
Jamur tiram putih kandungan gizinya sangat lengkap dengan tingkat
protein yang lebih tinggi dari pada asparagus dan kubis. Jamur tiram putih juga
mengandung sembilan asam amino yaitu methionin, trepthopan, threonin, valin,
leusin, isoleusin, histidin dan fenilalanin.
Pembuatan, uji kadar air dan uji daya serap uap air dilakukan di
Laboratorium Mikrobiologi Putra Indonesia Malang. Pengeringan dan uji protein
di Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang. Uji volunteer
dilakukan di Perum Sawojajar RT01 RW12. Jenis penelitian ini adalah
eksperimen dengan rancangan penelitian terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan,
pelaksanaan dan akhir.
Perisa nabati dibuat dengan satu formulasi dengan tiga replikasi.Hasil uji
yang diperoleh sebagai berikut rata-rata kadar air 4%, daya serap uap air 11%,
kadar protein 4%, kadar asam glutamate 10,5 mg/g berat kering hasil volunteer
dari masyarakat memenuhi criteria baik dengan rata-rata nilai 86,67.
Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan untuk mencari formulasi yang
lebih bervariasi. Penelitian lanjutan juga perlu dilakukan untuk uji mutu yang
sesuai SNI.

ABSTRAK

Rani. Mega Puspaning. 2012. Evaluasi Mutu Fisik Granul Effervescent Ekstrak
Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L)
. Karya tulis ilmiah. Akademi
Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. Pembimbing Dra.
Wigang Soelandjari

Kata kunci : Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L), granul
effervesent, evaluasi mutu fisik granul effervesent

Selama ini mulai banyak olahan minuman kesehatan dipasaran yang
menggunakan bahan alam sebagai bahan baku utamanya. Itu karena banyaknya
manfaat yang dapat diperoleh dari bahan alam tersebut. Kulit buah manggis
merupakan salah satu bagian dari buah manggis yang ternyata menyimpan banyak
sekali senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi tubuh. Salah satu kandungan dari
kulit buah manggis adalah xanthone yang merupakan antioksidan yang baik untuk
mencegah penuaan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan granul
effervescent dari kulit buah manggis guna mengambil manfaat yang ada
didalamnya serta meningkatkan nilai ekonomis kulit buah manggis.
Penelitian ini dilakukan di laboratorium makanan dan minuman Putra
Indonesia Malang. Tahap pelaksanaan dalam penelitian ini meliputi pengambilan
ekstrak kulit manggis dengan metode maserasi yang kemudian dijadikan bahan
aktif dalam pembuatan granul effervescent kulit buah manggis. Untuk selanjutnya
di dilanjutkan ke tahap pembuatan granul, setelah itu dilakukan pengujian mutu
fisik diantaranya uji organoleptis, uji waktu alir, uji kadar air, uji kelarutan dan uji
waktu larut.
Dari penelitian ini diperoleh waktu alir granul effervescent ektrak kulit
buah manggis rata-rata 7,83 detik. Hasil uji kadar air granul effervescent ektrak
kulit buah manggis rata-rata 0,31 % dan untuk uji waktu larut granul effervescent
rata-rata 42,92 detik. Hasil uji kelarutan granul ekstrak kulit buah manggis ratarata
90,17 %.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa granul effervesent ekstrak
kulit buah manggis memiliki kualitas mutu fisik yang baik di tunjukkan dengan
hasil pada uji waktu alir, uji kadar air, dan uji kelarutan, yang sudah sesuai dengan
literatur. Sedangkan untuk uji organoleptis, didapat hasil 73,333 % yang berarti
granul kurang disukai oleh masyarakat. Berdasarkan penelitian ini, perlu

ABSTRAK

Zulyarna. Nur Eka Cahya. 2012. Uji mutu fisik granul efferfescent dari ekstrak
rimpang kunyit ( Curcuma dometica )
. Karya tulis ilmiah. Akademi Analis
Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. Pembimbing Ambar Fidyasari,
S.Tp

Kata Kunci : Ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica ), granul effervescent,
mutu fisik .

Rimpang kunyit adalah salah satu tanaman obat yang tidak asing bagi
masyarakat umum. Rimpang kunyit tidak hanya dikenal masyarakat sebagai salah
satu bumbu dapur, namun sangat dikenal pula karena manfaatnya bagi kesehatan.
Salah satu manfaat rimpang kunyit adalah dapat menurunkan rasa nyeri yang
terkadang banyak dirasakan wanita umumnya pada saat haid. Disamping itu
kunyit juga berfungsi sebagai penurun panas.
Dalam penelitian ini, akan dilakukan pemanfaatan tanaman rimpang
kunyit ini sebagai bahan aktif dari minuman kesehatan yang akan dibentuk dalam
sediaan granul effervescent. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui mutu
fisik granul effervescent yang dibuat. Uji mutu yang dilakukan untuk mengetahui
kelayakan dari granul effervescent yang dibuat sebelum dipasarkan kepada
masyarakat. Serta untuk membuat sediaan baru dari tanaman kunyit.
Ekstrak kunyit diperoleh dari hasil ekstraksi dengan cara maserasi dengan
menggunakan pelarut ethanol. Ekstrak kunyit yang sudah pekat kemudian
ditambahkan bahan asam dan basa dan bahan pengikat. Bahan yang digunakan
antara lain yaitu asam tartrat, asam sitrat, natrium bikarbonat dan manitol. Proses
pembuatan granul dilakukan dengan cara granulasi kering.
Jenis penelitian ini adalah eksperimen dimana penelitian ini meliputi uji
organoleptis, uji kadar air, uji kelarutan, uji waktu larut dan uji waktu alir.Dari
hasil penelitian yang diperoleh semua uji yang dilakukan memenuhi syarat sesuai
dengan literatur. Persyaratan uji kadar air dalam granul tidak lebih dari 10%.
hasil dr penelitian didapatkan kadar air rata2 0.96%.Uji waktu larut diperoleh
hasil 34 dan 36 detik hal ini sesuai dgn syarat yaitu kurang dari 1 menit. Untuk uji
waktu alir rata-rata waktu yang diperoleh yaitu 7.67 hasil ini juga sesuai standart
yaitu tidak lebih dari 10 detik.
Berdasarkan dari hasil uji dan kesimpulan yang didapat, masih perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut agar formulasi yang digunakan dapat lebih
sempurna. Sehingga dapat lebih meyakinkan konsumen apabila produk ini
dipasarkan ke masyarakat serta efek yang diberikan dapat berdampak positif bagi
konsumen.

ABSTRAK

Mahendra, Yoga. 2012. Pengaruh konsentrasi stater dan lama fermentasi
terhadap karakteristik cuka ubi jalar ungu
. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang. Pembimbing Misgiati A.Md, S.Pd, M.Pd.

Kata kunci : konsentrasi stater, lama fermentasi, cuka ubi jalar ungu.

Ubi jalar ungu merupakan tanaman umbi-umbian yang mudah didapatkan
dan kaya akan kandungan antosianin yang berfungsi sebagai antiradikal bebas .
Selama ini ubi jalar ungu digunakan sebagai bahan pangan yang pengolahannya
dikukus, direbus, digoreng, atau dibakar. Penggunaan yang masih sederhana dan
kandungan antosianinnya menjadi pertimbangan untuk memanfaatkan ubi jalar
ungu menjadi produk yang bernilai ekonomis lebih tinggi, antara lain cuka.
Konsentrasi stater dan lama fermentasi sangat mempengaruhi dalam
proses fermentasi fermentasi cuka. Konsentrasi starter tinggi pada media yang
jumlahnya sedikit akan menimbulkan persaingan antarmikroorganisme dalam
mendapatkan nutrisi, sedangkan starter yang konsentrasinya rendah tidak dapat
merombak semua nutrisi pada media yang berjumlah banyak sehingga hasilnya
belum mencapai maksimal. Fermentasi yang terlalu singkat menghasilkan sedikit
produk sebab tidak semua subtratnya terdegradasi, sedangkan fermentasi yang
terlalu lama dapat menurunkan kadar asam asetat karena banyaknya alkohol yang
menguap pada saat proses fermentasi alkohol menjadi asam asetat.
Penelitian ini ditekankan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi starter
dan lama fermentasi terhadap karakteristik cuka ubi jalar ungu. Konsentrasi stater
yang digunakan yaitu konsentrasi stater 5%, 10%, 15% dan lama fermentasi yang
digunakan yaitu 10 hari, 12 hari, 14 hari. Dari penelitian ini akan di analisis
karakteristik cuka ubi jalar ungu yang meliputi pengujian organoleptis, total asam,
residu alkohol, pH, total antosianin, dan aktivitas antioksidan.
Parameter pengujian yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik cuka
ubi jalar ungu meliputi pengujian organoleptis (warna, rasa, dan aroma), total
asam, residu alkohol, pH, total antosianin dan aktivitas antioksidan cuka ubi jalar
ungu. Metode yang digunakan untuk pengujian karakteristik cuka ubi jalar ungu
meliputi metode volunter untuk pengujian organoleptis, metode titrasi alkalimetri
untuk pengujian total asam, metode gas kromatografi untuk pengujian residu
alkohol, metode pH meter untuk pengujian pH, dan metode spektrofotometri Uv-
Vis untuk pengujian total antosianin dan aktivitas antioksidan cuka ubi jalar ungu.
Pengolahan data dari penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
metode ANOVA program SPSS 13. Pengolahan data dilakukan pada setiap
parameter yang digunakan dalam pengujian karakteristik cuka ubi jalar ungu. Dari
hasil penelitian ini diketahui bahwa konsentrasi stater dan lama fermentasi sangat
berpengaruh terhadap karakteristik cuka ubi jalar ungu.

ABSTRAK

Ridwan, Riyan Taufik. 2012. Penetapan Kadar Iodium Pada Garam Dapur Di
Pasar Besar Malang Dengan Metode Spektrofotometri
Karya tulis
Ilmiah. Akademi Analis Farmasi dan Makanan putra Indonesia
Malang. Pembimbing Dra. Wahyu Wuryandari, M. Pd.

Kata kunci : penetapan kadar, pasar besar malang, kadar iodium

Masih banyak garam beriodium yang beredar dimasyarakat berlabel tetapi
tidak mencantumkan komposisi sesuai dengan SNI. Oleh karena itu, diperlukan
penetapan kadar iodium pada garam beriodium, apakah kandungan iodiumnya
sesuai dengan SNI atau tidak. Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif
mencegah timbulnya GAKI. GAKI memang tidak secara langsung bisa
didiagnosis. Namun, jika kekurangan iodium terjadi dalam jangka waktu yang
lama dan bersifat kumulatif maka bisa menyebabkan timbulnya GAKI salah
satunya yakni terganggunya kecerdasan.
Pasar Besar Malang merupakan tempat dimana aktifitas jual beli lebih
ramai dibandingkan dengan pasar-pasar lain di Kota Malang. Di Pasar Besar
Malang peneliti menemukan garam beriodium yang tidak mencantumkan
komposisinya. Setelah peneliti menguji kandungan iodiumnya ternyata kandungan
iodiumnya tidak sesuai dengan SNI. Oleh karena itu, peneliti melakukan
penetapan kadar iodium pada garam beriodium yang beredar di Pasar besar
Malang.
Berdasarkan hasil penetapan kadar iodium pada garam beriodium yang
beredar di Pasar Besar Malang. Dari tujuh merk yang beredar hanya satu merk
yang tidak memenuhi SNI yakni merk B, sedangkan yang enam merk lainnya
memasuki SNI. Selain itu dari masing-masing merk, hanya merk G yang
kandungan iodiumnya hampir sama setiap batchnya.

ABSTRAK

Handayani, Atik. 2012. Uji Aktivitas Isolat Flavonoid Daun Dandang Gendis
(Clinacanthus nutans) terhadap Penurunan Kadar Gula Darah pada Mencit
Putih jantan (Mus musculus)
. Karya Tulis Ilmiah Akademi Analis Farmasi
dan Makanan “Putra Indonesia” Malang. Pebimbing Drs. Riza Abudaeri.,
Apt.

Kata Kunci : antidiabetes, daun dandang gendis, isolasi flavonoid, mencit putih

Tanaman daun dandang gendis merupakan salah satu tanaman yang secara
empiris dimanfaatkan masyarakat sebagai obat untuk diabetes. Berdasarkan hasil
beberapa penelitian menyatakan bahwa senyawa yang berpotensi sebagai penurun
kadar gula darah atau memiliki aktivitas antidiabetes dalam suatu tanaman adalah
senyawa flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas
isolat flavonoid daun dandang gendis terhadap penurunan kadar gula darah pada
mencit putih jantan.
Uji aktivitas dalam penelitian yang dilakukan, perlu adanya metode baku
yang bisa digunakan sebagai dasar dari pelaksanaan penelitian. Objek penelitian
yang digunakan yaitu isolat daun dandang gendis yang diperoleh dengan cara
kolom kromatografi, dosis yang digunakan yaitu dosis 39 mg. Objek yang kedua
yaitu hewan uji yang digunakan sebagai variabel kontrol dalam pengukuran kadar
gula darah mencit.
Tahap awal dari penelitian ini adalah isolasi senyawa flavonoid dengan
metode sokletasi menggunakan pelarut ethanol 70 %. Tahap kedua ekstraksi caircair
menggunakan kloroform dan etil asetat secara bertahap. Selanjutnya
pemisahan dan pemurnian komponen senyawa flavonoid dengan metode KLT
menggunakan eluen BAA (4:1:5) diperoleh empat noda berwarna kuning – ungu
dengan dideteksi dibawah sinar UV 254 nm. Pemisahan dengan metode kolom
kromatografi diperoleh 15 fraksi dan fraksi ke-5, 7, 12,14 merupakan komponen
utama. Hasil isolasi yang positif mengandung flavonoid digunakan dalam
pengujian aktivitas antidiabetes terhadap mencit putih jantan. Isolat yang positif
flavonoid diberikan secara oral kepada mencit putih jantan yang telah
dikondisikan diabetes dengan menggunakan streptozotosin dengan dosis 50
mg/kgBB, sedangkan penurunan akan menggunakan isolat flavonoid daun
dandang gendis dengan dosis 39 mg dan kontrol glibenclamid sebagai
pembanding.
Hasil akhir penelitian, isolat flavonoid daun dandang gendis dengan dosis
39 mg memberikan penurunan sebesar 8 mg/dL, sedangkan kontrol positif dengan
penurunan 40.6 mg/dL dan untuk kontrol negatif sebesar – 0.67 mg/dL.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa isolat flavonoid daun dandang
gendis mempunyai pengaruh dalam menurunkan kadar gula darah mencit putih
jantan yang diinduksi streptozotosin, namun aktivitasnya lebih rendah dibanding
glibenklamid



ABSTRAK


Rini, Dita Puspita. 2012. Pengaruh Derajat Keasaman dan Konsentrasi Starter terhadap Karakteristik Nata Kulit Kopi. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. Pembimbing Hendyk Krisna Dani S.Si.

Kata kunci : pembuatan nata kulit kopi,  perbedaan pH dan konsentrasi starter, karakteristik nata kulit kopi.

             Kulit kopi merupakan bahan yang dianggap limbah oleh kebanyakan masyarakat. Pemanfaatannya pun juga masih belum maksimal, misalnya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak.  Namun jika dilihat dari kandungannya, kulit buah kopi mempunyai potensi untuk dijadikan bahan makanan alternatif yang lebih bernilai jual tinggi. Salah satu bahan makanan alternatif yang dapat dibuat adalah nata. Keistimewaan produk ini karena kandungan terbesar adalah air (98%), maka produk ini digunakan sebagai sumber makanan rendah kalori, serta merupakan suatu produk yang sudah dikenal di masyarakat. Faktor – faktor yang mempengaruhi proses fermentasi nata antara lain pH, konsentrasi stater, suhu, dan lama proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh  konsentrasi starter 10%, 15% dan 20% serta pH nata kulit kopi  dikondisikan pada pH 3, 4 ,dan 5 terhadap mutu fisik (bobot, kadar serat, kekenyalan)  nata kulit kopi.
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian pengaruh pH dan konsentrasi starter terhadap karakteristik nata kulit kopi mendapat hasil organoleptik nata yang berwarna putih kemerahan, kenyal dan tidak berbau. Pada uji bobot tuntas mendapatkan bobot optimal 30.0922 g pada pH 5 dan konsentrasi starter 20%, kemudian uji kadar serat mendapatkan hasil yang optimal sebesar 0.8884% pada kondisi pH 4 dan konsentrasi starter 20%, dan hasil uji kekenyalan yang optimal pada pH 4 dan konsentrasi starter 20% yaitu sebesar 7,8 N .
Dari hasil pengujian diatas, dalam pembuatan nata kulit kopi disarankan untuk menggunakan vormulasi dengan pH 4 dan konsentrasi starter 20% agar mendapatkan nata kulit kopi dengan karakteristik yang baik.


ABSTRAKSI

Sari, Yulfiana Elmerillia. 2012. Eksplorasi Senyawa Flavonoid pada Ekstrak
Maserasi Daun Insulin (Smallanthus sonchifolius) dengan Metode KLT
dan Spektrofotometri UV-Vis dan IR
. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Analis
Farmasi dan Makanan Putera Indonesia Malang, Pembimbing Drs. Sentot
Joko Raharjo, M.Si.

Kata kunci : Eksplorasi, Flavonoid, Daun Insulin, Maserasi, KLT,
Spektrofotometri UV-Vis dan IR.

Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan
masyarakat karena mengakibatkan angka kematian cukup tinggi. Pengobatan
diabetes melalui terapi insulin dan obat oral dari herbal yang diduga efek
farmakologisnya dalam menurunkan kadar gula darah sama seperti obat
hipoglikemik. Tanaman yang secara empiris digunakan sebagai obat antidiabetes,
salah satunya adalah Daun Insulin yang berkhasiat menurunkan kadar gula darah.
Namun, belum ada penelitian yang mengeksplorasi senyawa daun insulin yang
berkhasiat sebagai antidiabetes yang diduga golongan Flavonoid. Penelitian ini
bertujuan untuk mengisolasi senyawa flavonoid dan mengidentifikasi dengan
menggunakan metode Kromatografi Kolom dan dianalisis dengan
spektrofotometri UV Vis dan IR.
Eksplorasi Senyawa Flavonoid pada Ekstrak Daun Insulin (Smallanthus
sonchifolius) sebagai Antidiabetes menggunakan Metode Penyarian Maserasi,
Isolasi dengan Ekstraksi cair-cair dan Kromatografi Lapis Tipis. Identifikasi
dengan Spektrofotometri UV-Vis dan IR.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Farmakognosi
Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang pada Januari
sampai dengan Juli 2012. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi.
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah Tanaman Herba Insulin
(Smallanthus sonchifolius), dan sampel berupa 100 gram Herba Daun Insulin
segar.
Hasil penelitian menunjukkan Isolat Flavonoid yang didapat sebanyak 0,1433
g, dan Pemisahan kromatografi kolom menghasilkan F35 yang merupakan isolat
paling murni dengan noda tunggal dengan Rf 0,56. Hasil identifikasi F35 memiliki
λ max pada pita I 230 nm, pita II 270 nm, dan pita III 329 nm. Sedangkan hasil
spektrofotometri IR menunjukkan F35 memiliki gugus penyusun OH, CH alifatik,
C=O, C=C aromatik, C-O alkohol.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, perlu dilakukan penambahan pereaksi
geser pada pembacaan spektrofotometri UV-Vis dan perlu dianalisis
menggunakan NMR dan LC-MS untuk dapat ditetapkan strukturnya dan
mengidentifikasi golongan flavonoid yang ada pada Daun Insulin.

ABSTRAKSI

Febriani, Ellyana. 2012. Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Sifat Organoleptik
dan Nilai Nutrisi Tempe Keju
. Karya Tulis Ilmiah. Akademi
Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang,
Pembimbing Fitri Eka Lestari S. Gz.

Kata kunci : Tempe, lama fermentasi, sifat organoleptik dan nilai nutrisi

Tempe merupakan suatu bahan makanan berasal dari olahan kedelai yang
telah difermentasi dengan bantuan kapang Rhizopus oligosporus. Kandungan zat
gizi pada tempe cukup kompleks, yaitu protein, karbohidrat, lemak, serat, mineral,
vitamin dan asam amino. Meskipun tempe merupakan salah satu bahan makanan
dengan kandungan zat gizi yang melimpah, pada kenyataannya rasa dari tempe
kurang disukai oleh balita dan anak-anak.
Salah satu upaya untuk memperbaiki rasa dari tempe adalah dengan
menambahkan keju di dalam proses pembuatan tempe. Pada penelitian
sebelumnya telah didapatkan hasil peningkatan nilai nutrisi dan sifat organoleptik
tempe keju terbaik pada tempe dengan penambahan keju 15%. Namun dengan
peningkatan nilai nutrisi tidak diikuti dengan peningkatan tekstur tempe keju.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, perlu dilakukan analisis lama
fermentasi yang optimum pada tempe keju agar didapatkan hasil yang optimum
pula dari segi tekstur dan nutrisinya
Lama fermentasi pada penelitian ini adalah 36 jam, 48 jam, 60 jam dan 72
jam dibandingkan dengan kontrol. Dari masing-masing variasi lama fermentasi
juga di analisis sifat organoleptis dan nilai nutrisi dari tempe keju yang dibuat.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil peningkatan
nilai nutrisi makronutrien. Meliputi kadar protein dan lemak optimum pada tempe
keju 15% dengan lama fermentasi 48 jam. Nilai kadar protein tempe keju 15%
dengan lama fermentasi 48 jam sebesar 19,17% dan kadar lemak sebesar
10,424%. Disamping itu produk tempe keju 15% dengan lama fermentasi 48 jam
merupakan produk tempe keju dengan tekstur kompak dan rasanya yang paling
disukai panelis anak-anak.












Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
- See more at: http://zonablogging.blogspot.com/2012/12/cara-membuat-nomor-halaman-keren-di.html#sthash.gpmQeUPv.dpuf
Selamat datang di blog PERPUSTAKAAN PUTRA INDONESIA MALANG , Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga bermanfaat bagi anda !! Welcome to LIBRARY PUTRA INDONESIA MALANG, Thanks for visiting our blog .. Hopefully useful for you !! :)